yayanadenan's blog

what were they thinking?

Posted on: March 7, 2010

https://i1.wp.com/1.bp.blogspot.com/_7FL1syWUSEE/ShJes-s5edI/AAAAAAAAAXk/WS3OooQ5mHc/s400/motor+anak+sekolah.JPG

Itulah kalimat yang pertama kali terlintas di benakku ketika melihat seorang anak mengendarai sepeda motor. Bukan, bukan ditujukan kepada si anak, tetapi pada orang tuanya. Apa yang mereka pikirkan ketika mengijinkan anak mereka yang masih kecil itu mengendarai motor? Bahkan lebih jauh lagi, apa yang mereka pikirkan ketika mereka MENGAJARI anak mereka yang masih kecil itu mengendarai motor? Apakah mereka BANGGA anak mereka yang masih kecil itu BISA mengendarai motor?

Banyak alasan yang dikemukakan orangtua-orangtua tersebut, mulai dari “Biar ke sekolahnya gampang!” atau “Biar bisa bantu-bantu dikit..maklum kita repot banget jaga warung..” ada juga “Biar bisa nganterin saya ke depan situ buat nyegat angkot!” atau “Biar bisa nganterin adiknya les!” ada lagi “Maklum, angkot mahal, kalo bisa bawa motor kan bisa irit..” ini buat yang anaknya udah SMP. Entah anak itu udah punya SIM C atau belum. Atau punya SIM tapi ‘nembak’, itu sudah menjadi rahasia umum.

Yang paling bikin miris adalah, kalau anak yang naik motor itu anak SD, jadi sekitar umur 9 atau 10 tahun…dengan bangganya melaju dengan kencang di jalan kampung. Bagaimana kalau kehilangan kendali lalu jatuh? Atau menabrak sesuatu? Lebih khawatir lagi, bagaimana kalau menabrak orang? Lalu siapakah yang akan bertanggung jawab jika itu terjadi? Apakah anak itu? Orang tuanya?

Batasan umur untuk persyaratan permohonan SIM C adalah 17 tahun, ini juga berlaku untuk SIM A. Tentu ada alasan mengapa batas umur ini ditentukan. Menurutku batasan umur ini untuk menentukan mentalitas pengendara di jalan. Karena untuk berkendara di jalan butuh mentalitas yang matang karena pengendara dituntut untuk selalu berpikir jernih dan logis serta refleks yang tinggi dalam menghadapi kejadian yang mendadak. Nah, kalau di pengendara (motor) adalah seorang anak kecil, tentu dia belum mencapai mentalitas seperti itu. Walhasil jika terjadi sesuatu, dia belum bisa bertanggungjawab terhadap peristiwa itu juga terhadap dirinya sendiri. Itu adalah tanggungjawab orangtuanya sepenuhnya.

As a mother, aku benar-benar prihatin dengan banyaknya fenomena ini, apalagi di sekitar tempat tinggalku, banyak sekali anak-anak yang melaju kencang dengan motor (orangtua)nya. Aku sendiri diijinkan belajar naik motor oleh bapak ketika menginjak kelas 2 SMA, itu pun aku malah gak mau bawa motor ke sekolah, karena membayangkan bakal kehilangan keriaan bersama teman-teman ketika pulang bersama naik kendaraan umum.  Baru setelah kuliah di luar kota naik motor menjadi sebuah kebutuhan akan kemudahan.

Di Indonesia sendiri, bikin SIM termasuk mudah ya..sudah menjadi rahasia umum jika ada ‘calo resmi’, maka satu hari kelar sudah SIM kita, tinggal nunggu dipanggil buat foto aja. Tapi kalo di Amerika? Atau Jepang misalnya? Jangan harap bisa lulus dengan mudah jika tidak belajar dulu tata tertib berlalu lintas di Amerika. Atau di Jepang, ujian prakteknya bisa berkali-kali karena sangat mendetail. Jadi jangan harap ada anak-anak mengendarai mobil atau motor di sana.

Anak-anak selalu mencontoh apa saja tingkah laku orangtuanya, maka tindakan ‘tidak disiplin kepada peraturan’ orangtuanya tentu menjadi cerminan mereka di masa depan.

https://i2.wp.com/politikana.com/images/large/www-gettyimages-com.jpg

Advertisements

4 Responses to "what were they thinking?"

aku bisa naik motor umur 11 tahun mbak, setelah masuk selokan… Temen2 sma-ku pada naik motor ke sekolah n punya sim dengan cara nembak. iya, di indonesia bikin sim relatif gampang.

Biarpun udah lancar bawa motor, aku tetep ikut peraturan, bikin SIM lulus SMA pas udah 17 tahun. Pas sim-ku mati, aku bikin sim sendiri mbak dengan melalui srangkaian tes. Ternyata masih ada warga negara yang baik, yg taat peraturan, he he (muji diri sendiri)…

wah kemana aja nih, lagi ujian po? hahaha…
ya gak papa sih bisa naik motor sejak umur sebelum batas umur, asal kaki udah bisa napak tanah rada aman laah…tapi jangan trus dikasih bawa motor terus2an, kan bahaya tuh..apalagi anak-anak yang gayanya sok jagoan ngebut di jalan kampung…pengen tak jitak deh tu anak..(niru siapa yaa…pasti lingkungan deh)..

yaa..bagus dong bikin SIM sesuai aturan, gak malsuin umur…(bikin repot diri sendiri aja…) tapi kebanyakan anak sekarang apalagi di ibukota, smp dah dibawain mobil, dah jelas banget kan kalo SIMnya nembak? bangga lagi..belum lagi ini ‘dilegalkan’ dengan tayangan sinetron2ato reality show yang borju itu (huh..untung aku ga doyan..)..hahaha..ini sih masalah laen… 🙂

aku kemarin-kemarin ke jakarta mbak, mengurus adekku yg jatuh sakit (he he kata2nya bhs indo baik n benar bgt).

he eh, bener banged mbak… apa tuh katanya penegak hukum, tapi mau aja jadi oknum yg mengabaikan hukum, memfasilitasi anak-anak dibawah umur mendapatkan kartu yang seharusnya belum menjadi hak mereka. Ini kan bentuk korupsi juga… huh parah…

oh adik yang temen ngelancong ke HCMC? kasian amat…sakit, untung punya mbak deh…hehehe…smg cpt sembuh y..

iya memang parah…mental korup terbentuk dari perilaku korup sejak dini…walopun hanya hal-hal kecil… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

blog stats

  • 41,165 hits

moshi moshi!


moshi moshi! Welcome to my first blog. Just a place where i can write thoughts, opinions, experiences, interests, and about me, or people around me. Be pleased when you visit this page, and i welcome you to be my friend...
Enjoy!

tanggalan

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

my hyde

Archives

%d bloggers like this: