yayanadenan's blog

segitu susahnyakah?

Posted on: March 25, 2010

https://i1.wp.com/www.valve.fi/xmas09/wp-content/uploads/PaperTrashBin-361x270.jpgSering ga habis pikir, melihat anak tetangga yang dengan enaknya ‘bar-ber’ alias buang bungkus snacknya begitu saja di depan rumahnya, yang kebetulan juga jalan menuju rumahku. Padahal sudah diperingatkan berkali-kali, supaya buang sampah di tempat sampah, kenapa begitu susah ya? Apakah di rumahnya tidak ada tempat sampah? Atau hanya sekedar malas? Atau sudah menjadi habit sehingga tangannya otomatis begitu? Berjuta pertanyaan (lebay ih..beberapa pertanyaan aja kok..) melintas di benakku begitu membuka pintu di pagi hari dan mendapati jalanan di depan rumah kotor oleh sampah…

Di lingkungan rumahku di dalam kampung, memang sampah ada yang ambil, cukup bayar lima ribu rupiah perbulan, sampah siap diangkut tiap pagi. Tapi memang kebetulan tetanggaku itu tidak berlangganan layanan ini, jadi agak bingung juga bagaimana dia mengelola sampahnya sendiri…sewaktu menyapu depan rumahnyapun cuma disingkirkan dari depan rumahnya aja..udah tau nanti ada yang bakal nerusin… Hmm, kenapa jadi malah curhat ya? Susahnya hidup bertetangga, ada saja hal yang bikin ‘rentan’ keributan ^_^.

Hal yang terlintas di benakku tadi juga terjadi jika melihat orang-orang yang membuang sampah seenaknya saja dari jendela mobil, atau di tempat-tempat umum. Padahal, tempat sampah hanya berjarak satu atau dua meter dari mereka duduk. Malas? Tidak lihat? Rabun? Atau sudah menjadi habit? Cuma bisa geleng-geleng kepala…sambil menumpuk dosa karena sudah ‘ngrasani’ orang walau dalam hati.

Menurutku, kebiasaan buang sampah di tempatnya harusnya sudah bisa diajarkan sejak dini, sejak anak-anak. Dan kebiasaan itu harus diajarkan oleh orang tua yang sudah ‘sadar’ tentang hal ini. Bagaimana mau membiasakan, kalo dia sendiri tidak biasa. Segitu susahnyakah mengajarkan hal ini?  Anak-anak lebih menyerap contoh perilaku daripada kata-kata. Jadi biasakan diri, baru ajarkan. Aku bersyukur banget punya orang tua yang disiplin tentang kebersihan, dan ajaran mereka sampai sekarang menempel kuat di otakku. Jadi selain aku ajarkan anakku supaya buang sampah di tempatnya dengan kata-kata, aku juga contohkan padanya. Mudah sekali, tanpa keluar keringat setetespun. Bukankah lingkungan yang bersih juga menciptakan lingkungan yang sehat? Juga habit yang sehat? Insya Allah anakku akan mencontohkannya pada anaknya kelak..sungguh investasi yang bagus.

Ada beberapa hal yang aku lakukan berkaitan dengan sampah:

  1. Ketika aku tau bahwa sampah yang diambil tiap hari itu dibakar, aku hanya ‘menyetor’ sampah kering saja, sampah organik aku timbun sendiri di pekarangan rumah.
  2. Membuat lubang di tanah khusus untuk sampah organik, sebetulnya ingin sekali membuat kompos sendiri, mudah-mudahan segera terlaksana 🙂
  3. Selalu sedia kantong untuk membuang sampah di dalam tas. Jadi selalu siap tempat apabila tidak tersedia tempat sampah di tempat umum. Aku sendiri sudah terbiasa membawa ‘oleh-oleh’ sampah sendiri jika habis bepergian.
  4. Kadang-kadang orang berdalih, ah cuma bungkus permen, kecil ini…wah kalau yang berpikir begitu seratus orang, ada seratus bungkus permen yang dibuang sembarangan dong…ga kecil lagi kan. Jadi masukkan saja ke dalam tas kalau sedang bepergian, ga bakalan nambah beratnya ampe satu ons kok 🙂 Tau ga sih, susahnya ‘njumput’ bungkus permen yang kecil itu kalo lagi bersih-bersih?
  5. Sediakan tempat sampah di mobil, kalau ga ada, ya kantong plastik saja. Sering terpikir ketika melihat orang yang membuang sampah dari mobil..walah, mobil mewah tapi kelakuan ga mewah sama sekali.. heran deh, masa kuat beli mobil tapi ga kuat beli tempat sampah? ^_^ Apakah tempat sampah di dalam mobil bisa merusak keindahan mobil tsb? Hahaha…pikirannya melantur sampai kemana-mana jadinya..

Pasti masih banyak ide-ide kecil untuk meminimalisir masalah sampah ini, setidaknya untuk skala rumah tangga. Mulailah dari diri kita sendiri, karena itulah awal mula kebiasaan yang baik, yang akan ditiru oleh anak cucu kita. Bayangkan lingkungan yang lebih baik lagi jika semua anak-anak kita mempunyai kebiasaan kebersihan yang baik, tak ada lagi lingkungan yang kotor dan berdampak buruk bagi kesehatan.

Advertisements

12 Responses to "segitu susahnyakah?"

bener mbak, aku juga heran sama orangtua yang nggak sejak dini ngajarin tertib membuang sampah. Hal kecil tapi berdampak besar. Coba semua mama kayak mbak yayan (ehem, langsung sempit deh bajunya he he) pasti dunia ini akan lebih bersih, indah, dan tertib.

he he aku juga gemarv menyimpan sampahku selama perjalanan mbak. di tasku itu isinya bungkus permen melulu, jadi bertanya2 sendiri, ini aku bawa tas sekolah apa tas sampah ya he he. di rumah suka lupa membuang isinya, jadi baru tersadar pas bungkus permennya rada banyakan.

hmm, ya mbak, minimal mulai dari diri kita sendiri. nanti sambil kampanye kecil2an ke orang2 sekitar kita, so lama2 berubahlah dunia ini he he… 🙂

asiikk…seneng punya temen yang seide denganku… 🙂
iya nih, dipuji langsung jilbabnya copot peniti’a…hahaha

memang harus sejak dini vit, karena itu masa keemasan buat otak untuk mengingat semua hal, kalo dah gede, syusyah…
akibatnya besar lho kalo ga biasa buang sampah pada tempatnya saat kecil, kalo dipikir2 kenapa coba orang-orang itu dengan enaknya buang sampah ke sungai atau ke bantaran sungai, atau ke tanah kosong? ~sigh~
seakan-akan tempat-tempat itu memang disediakan untuk buang sampah…….kalo ga dikasih papan tanda peringatan dengan cueknya tetep aja buang sampah ke situ…. kadang dikasih tanda pun tetap cuek…

itu kan karena mereka udah biasa melihat hal seperti itu sejak kecil, jadi menganggapnya hal yang lumrah. Percuma di sekolah diajarkan blablabla tapi di rumah kebiasaannya beda. Coba deh analisa sendiri…(halah..siapa yang mau…hihihi)

jadi esmosi, padahal gara-gara ga habis pikir aja… 😦

hi3… ini mbak, kubawain peniti yang gak gampang copot…. o=o

karena beberapa orang di masyarakat kita nggak anggap buang sampah itu masalah penting, jadi gitu deh, menggampangkan. Apa karakteristik mayoritas orang di negara berkembang itu emang begini ya… Tapi yang ironis juga, pendidikan tinggi nggak mengajarkan mereka2 itu menjadi pribadi2 yang peduli pada hal-hal kecil berdampak besar, kayak buang sampah pada tempatnya ini ya mbak…

pendidikan di sekolah dan di rumah emang harus sinkron n konsisten, biar anak-anak kita (eh aku belum punya anak ding ya he he) juga tumbuh jadi orang2 yang konsisten pada kebaikan.

huh aku juga jadi esmosi niy mbak… arrrgghhh, aku makan aja deh biar gak esmosi lagi…

wah makasih penitinya 🙂 *pakelagi*

itulah…di pendidikan yang lebih tinggi udah terlambat utk mengajarkan hal ‘remeh-temeh’ seperti ini…adanya cuma teori saja, aku juga heran…padahal seingatku selalu ada ajaran membuang sampah pada tempatnya atau tentang kebersihan yang sebagian dari iman, contohnya, tapi tetep aja gak nyantol. Ya kembali lagi, kalo begitu pulang ke rumah yang didapati adalah sebaliknya, ya percumalah semua itu 😦 Memang benar kata vita, itu jadi hal yang nggak penting….

Kemarin juga melintas di jalan dimana sedang diadakan ‘penggalian’ saluran air/selokan di sepanjang jalan raya, isinya sampah semua…itu kan hasil dari orang-orang yang buang sampah ‘cuma kecil ini’…. itu juga di’gali’ atau dibersihkan karena banjir akibat salurannya mampet kan…udah tau gitu juga ga berubah kelakuannya…

woi esmosi kok malah makan…sini bagi… 🙂

Sepakat… 🙂
q juga sering bawa oleh” sampah klo habis bepergian…
paling sering sich bungkus permen…
hehe
salam kenal mbak 🙂

HIDUP!!! ^_^

lam kenal lagi ^_^ thanks ya akhirnya maen ke blogku… 🙂
memang cara paling mudah tuk tidak menambah kotor jalanan atau tempat-tempat umum, masukkan dalam tas! simpel, ga perlu mikir, ga perlu keluar kringet…anak2 ampe orang tua bisa melakukannya. Sip lah!

Hidup!! juga!

ikut komen nih ^^ .. aku sering bermasalah sama sampah yang berceceran di jalan .. sangat menyebalkan

1. puntung rokok : kok kaki ku panas ya, ternyata ada puntung rokok yg msh menyala dibawah sendalku .. hiks

2. plastik es : pas mo nyebrang, sret dah .. kepeleset dikit .. untung kagak jatuh, pdhl lg mo nyebrang tuh .. ternyata aku menginjak plastik es yg lengkap sama es + sedotannya 😦

btw, nice info utk pembuangan sampah organik dan non organiknya .. ^^

wah….turut prihatin ama kejadian yang kamu alami 😦
puntung rokok jelas nyebelin, tapi kantong plastik es bekas tambah nyebelin lagi tuh… soalnya kemungkinan besar habis di konsumsi anak-anak kan.. satu lagi bukti bahwa buang sampah pada tempatnya ga dicontohin dengan baik… 😦

btw, makasih dah mampir ya mi… 🙂

sama2 .. yup .. sampah2 plastik yg dijalan raya, bisa buat motor jd keplesetan .. serem ..

hah? emang bisa ya? pernah kejadian? aku mlh baru denger ni ^_^

sampah kaleng kali ya .. waktu itu liat di film :p .. tp kata temenku yg pengendara motor, sampah plastik klo hujan, emang bikin licin ..

oh gitu ya…make sense sih ^_^

sampah plastik memang bikin licin, ternyata ga hanya bagi pejalan kaki, tapi pengendara motor juga ya, apalagi kalo jalannya tanah..bisa berabe tuh pas hujan. Hmm jadi tau nih..hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

blog stats

  • 40,722 hits

moshi moshi!


moshi moshi! Welcome to my first blog. Just a place where i can write thoughts, opinions, experiences, interests, and about me, or people around me. Be pleased when you visit this page, and i welcome you to be my friend...
Enjoy!

tanggalan

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

my hyde

Archives

%d bloggers like this: